Sore itu…
Lelaki Hujan duduk di bangku sebuah taman
Warna gelap sudah mewarnai awan-awan
Tak sabar menunggu hujan datang
Hujan yang telah lama ia rindukan
Sore itu…
Perempuan Senja duduk di bangku sebuah taman
Seperti biasa ia menikmati langit yang mulai petang
Menunggu datangnya jingga yang beriringan
Tetapi langit hanya berhias gelap awan
Selasa, 20 Desember 2011
Lelaki Hujan dan Perempuan Senja
Label:
Cerita Pendek,
Chapter Hidup,
Puisi,
Story
Teardrops In The Rain - CN. Blue
No one ever sees, no one feels the pain
Teadrops in the rain
I wish upon a star, I wonder where you are
I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be
I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don't know if I can go on without you oh
Teadrops in the rain
I wish upon a star, I wonder where you are
I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be
I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don't know if I can go on without you oh
Only One - Yellowcard
Broken this fragile thing now
And I can't, I can't pick up the pieces
And I've thrown my words all around
But I can't, I can't give you a reason
I feel so broken up (so broken up)
And I give up (I give up)
I just want to tell you so you know
And I can't, I can't pick up the pieces
And I've thrown my words all around
But I can't, I can't give you a reason
I feel so broken up (so broken up)
And I give up (I give up)
I just want to tell you so you know
Label:
Barat,
Lyrics,
Musik,
Yellowcard
Changes - Gareth Gates
I can't run, if you can't hide
And I'm allowed to change my mind, if I want,
But every time I make you cry,
there's a part of me inside that dies,
and now it's time to begin,
to cross the bridges that we've burned in sin,
but if I find a way to erase,
Turn the page on what we've left behind,
Cause I can't breath, when you're out of my sight.
And I'm allowed to change my mind, if I want,
But every time I make you cry,
there's a part of me inside that dies,
and now it's time to begin,
to cross the bridges that we've burned in sin,
but if I find a way to erase,
Turn the page on what we've left behind,
Cause I can't breath, when you're out of my sight.
Label:
Barat,
Gareth Gates,
Lyrics,
Musik
Senin, 31 Oktober 2011
Catatanku Tentang Kamu
Ada satu hal yang selalu ingin aku tanyakan padamu.
“Bagaimana perasaanmu padaku hari ini?”
Pertanyaan yang akan selalu aku tanyakan padamu untuk kamu jawab. Saat aku mungkin telah berubah. Saat aku mulai mempunyai jerawat. Saat aku mulai mempunyai kerutan di wajahku. Saat aku tidak secantik dulu.
“Masihkan rasa itu sama seperti dulu?”
“Bagaimana perasaanmu padaku hari ini?”
Pertanyaan yang akan selalu aku tanyakan padamu untuk kamu jawab. Saat aku mungkin telah berubah. Saat aku mulai mempunyai jerawat. Saat aku mulai mempunyai kerutan di wajahku. Saat aku tidak secantik dulu.
“Masihkan rasa itu sama seperti dulu?”
Planning yang Belum (Sempet) Jalan
Pernah g sih terfikir untuk ngerencanain hidup mu dan mulai membangun mimpi-mimpi yang bakal kamu lakuin 4-5 tahun ke depan? Atau mungkin lebih jauh dari itu? Hingga kamu udah berkeluarga mungkin? Atau bahkan hingga kamu tua?
Mungkin g sedikit yg berfikir kalo itu pekerjaan yang sia-sia ato malah g guna. Dengan berbagai macam alasan - "masih terlalu jauh mikir itu" atau "kita kan masih muda, nikmatin aja idup ini. Biarkan mengalir" - dst, dsb.
Tapi, tau g sih… kalo kita emang nyadar idup di dunia ini kaya ngarungin laut, kita bakal nyiapin semua itu. Bikin planning apa rencana-rencana yang g jauh-jauh dari target kan juga g dosa. Urusan semua planning itu jalan, berhasil ato malah g kita laksanain itu kan sebuah pilihan. Karena kita emang g bakal tau apa yg bakal terjadi ntar.
Semua manusia, toh bakalan tua. Siap ato g. mau apa enggak. Tiap detik telah membuktikannya. Tiap waktu itu adalah saksinya. Tapi kedewasaan merupakan pilihan. Dimana hanya aku, kamu, dia, siapapun itu berhak dalam memilihnya.
So… mulailah tulis mimpi-mimpi mu. Dan mulailah untuk mewujudkan tiap langkahnya...
Mungkin g sedikit yg berfikir kalo itu pekerjaan yang sia-sia ato malah g guna. Dengan berbagai macam alasan - "masih terlalu jauh mikir itu" atau "kita kan masih muda, nikmatin aja idup ini. Biarkan mengalir" - dst, dsb.
Tapi, tau g sih… kalo kita emang nyadar idup di dunia ini kaya ngarungin laut, kita bakal nyiapin semua itu. Bikin planning apa rencana-rencana yang g jauh-jauh dari target kan juga g dosa. Urusan semua planning itu jalan, berhasil ato malah g kita laksanain itu kan sebuah pilihan. Karena kita emang g bakal tau apa yg bakal terjadi ntar.
Semua manusia, toh bakalan tua. Siap ato g. mau apa enggak. Tiap detik telah membuktikannya. Tiap waktu itu adalah saksinya. Tapi kedewasaan merupakan pilihan. Dimana hanya aku, kamu, dia, siapapun itu berhak dalam memilihnya.
So… mulailah tulis mimpi-mimpi mu. Dan mulailah untuk mewujudkan tiap langkahnya...
Label:
Chapter Hidup,
Curhatan,
Story
Dibatas Senja Itu...
Aku mencintaimu tepat saat pandangan kita bertaut. Sore itu, dimana kita tidak sengaja bertemu. Mungkin ini takdir. Tapi aku tahu bahwa rasa itu enggan pergi meski aku tahu mungkin kamu tidak merasakannya.
Lama aku berharap kita bertemu, mulai hari itu, setiap sore menjelang, aku selalu pergi ke taman itu, tempat dimana pertama kali kita bertemu. Berharap aku akan melihatmu, atau mungkin aku dapat menyapamu dan berbicara denganmu. Sudah hampir 2 minggu aku selalu ke tempat itu, tapi belum juga aku melihatmu lagi. Nyaris putus asa, mungkin kemarin kamu tidak sengaja ke tempat itu, mungkin rumahmu di kota lain, dan kamu kebetulan lewat. Tapi… selalu saja ada perasaan yang menguatkanku bahwa suatu hari kita akan bertemu lagi. Dan ketika harapan itu nyaris runtuh, di situ, aku melihatmu kembali. Berdiri memandang langit senja yang memerah. Tersenyum, dan semburat merahnya menerpa wajahmu, menjadikannya begitu cantik dan anggun dimataku.
“Permisi…”, sapaku kikuk. Gugup dengan apa yang akan aku katakan.
“Iya… ada apa?”, tanyamu lembut sembari tersenyum.
“Kamu orang sini?”, tanyaku ragu.
“Bukan, aku hanya kebetulan lewat. Sayang kalo melewatkan pemandangan indah ini”, jawabmu lembut. “Kalau kamu? Kebetulan lewat juga?”, tanyamu ingin tahu.
“Nggak sih… Cuma kok kayaknya sering lihat kamu di sini”, jawabku kikuk. Malu. Baru kali ini aku berbicara dengan gadis yang sama sekali belum aku kenal.
Lama aku berharap kita bertemu, mulai hari itu, setiap sore menjelang, aku selalu pergi ke taman itu, tempat dimana pertama kali kita bertemu. Berharap aku akan melihatmu, atau mungkin aku dapat menyapamu dan berbicara denganmu. Sudah hampir 2 minggu aku selalu ke tempat itu, tapi belum juga aku melihatmu lagi. Nyaris putus asa, mungkin kemarin kamu tidak sengaja ke tempat itu, mungkin rumahmu di kota lain, dan kamu kebetulan lewat. Tapi… selalu saja ada perasaan yang menguatkanku bahwa suatu hari kita akan bertemu lagi. Dan ketika harapan itu nyaris runtuh, di situ, aku melihatmu kembali. Berdiri memandang langit senja yang memerah. Tersenyum, dan semburat merahnya menerpa wajahmu, menjadikannya begitu cantik dan anggun dimataku.
“Permisi…”, sapaku kikuk. Gugup dengan apa yang akan aku katakan.
“Iya… ada apa?”, tanyamu lembut sembari tersenyum.
“Kamu orang sini?”, tanyaku ragu.
“Bukan, aku hanya kebetulan lewat. Sayang kalo melewatkan pemandangan indah ini”, jawabmu lembut. “Kalau kamu? Kebetulan lewat juga?”, tanyamu ingin tahu.
“Nggak sih… Cuma kok kayaknya sering lihat kamu di sini”, jawabku kikuk. Malu. Baru kali ini aku berbicara dengan gadis yang sama sekali belum aku kenal.
Label:
Cerita Pendek,
Chapter Hidup,
Story
Langganan:
Postingan (Atom)